Essay LPDP hanya memiliki satu pertanyaan besar tapi bisa bikin pusing setengah mati.
Banyak dari teman-teman yang bertanya perihal essay LPDP ke aku merasa kebingungan dengan apa yang harus ditulis, bahkan bingung mengapa riwayat studi dan prestasi masih perlu dijelaskan dalam essay ketika sudah tertuang dalam CV/Riwayat Diri. Untuk itu, catatan ini bertujuan untuk membantu memecah pertanyaan essay utama LPDP serta memberikan kerangka akan apa yang bisa ditulis di essay tersebut. Let’s start!
Disclaimer: banyak yang setuju bahwa seleksi dokumen akan bisa kita lalui selama semua dokumen lengkap — artinya, bagus tidaknya essay belum begitu berpengaruh di sini. Berdasarkan pengalamanku, essay itu baru sangat membantu ketika seleksi substantif (wawancara). Sehingga, meski seleksi administratif hanya melihat kelengkapan dokumen, essay sudah harus siap dan matang di titik ini sekalipun karena kamu tidak bisa mengubahnya kelak ketika masuk di seleksi substantif.
Essay utama LPDP hanya memiliki satu pertanyaan besar, yakni “Komitmen kembali ke Indonesia, rencana pasca studi, dan rencana kontribusi di Indonesia”. Jika kita perhatikan berdasarkan peletakkan tanda koma (”,”), ada 3 hal yang diminta untuk ada dalam essay ini:
Sebagai awardee LPDP, kita memiliki kewajiban untuk pulang ke Indonesia selama durasi 2N (dengan N adalah durasi masa studi). Kewajiban ini bisa gugur dengan beberapa pengecualian, tetapi pada intinya harus tetap ada benang merahnya dengan Indonesia. Kalau kita balik mempertanyakan pertanyaannya, “Kenapa harus kembali ke Indonesia?” Menurutku, ada 3 alasan:
Pertama, masih banyak PR yang harus dikerjakan di Indonesia.
Indonesia melalui skema LPDP mengirim sumber daya manusianya untuk menempuh pendidikan lebih lanjut sebagai bentuk pembangunan kapasitas SDM. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencerdaskan putra-putri bangsa sehingga dapat memiliki ilmu dari negara, budaya, serta warga negara lain yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di Indonesia.
Kedua, return on investment
Menempuh pendidikan dengan bantuan LPDP artinya kita dibiayai oleh negara. Oleh uang pajak kamu, pajak aku, pajak kita semua. Bantuan ini merupakan satu bentuk investasi negara atas sumber daya manusianya. Sebagaiamana investasi pada umumnya, investor akan mengharapkan “return” atau hasil dari investasi tersebut. Meski negara tidak meminta return tersebut dalam bentuk uang, kembalinya awardee ke Indonesia dan berkontribusi untuk membantu menyelesaikan masalah di dalam negeri ini, akan dapat membantu mengurangi beban pemerintah di masa mendatang (harapannya demikian).
Ketiga, mencegah Brain Drain
Jika awardee tetap bekerja di luar negeri untuk luar negeri, Indonesia bisa kehilangan talenta terbaiknya. Dengan pulangnya awardee ke Indonesia, Indonesia dapat memiliki lebih banyak SDM berkualitas dengan talenta terbaik.
Masih ada banyak alasan yang bisa dijelaskan jika ditanya kembali ke Indonesia. Tetapi menurutku, pada intinya, essay ini ingin mengetahui bahwa kamu punya rencana. Essay ini ingin menyeleksi mereka yang memang tahu mau studi untuk apa dan yang hanya ingin jalan-jalannya saja. Maka dari itu, pertanyaan selanjutnya adalah
LPDP tidak membiayai seseorang hanya untuk studi, lalu pulang tidak melakukan apa-apa. Menurutku, berkaca dari 3 alasan di atas mengapa harus kembali ke Indonesia, LPDP ingin melihat awardeenya memiliki rencana akan hal apa yang akan dilakukan selesai studi.
Menempuh pendidikan tinggi artinya membuka pikiran dan mengisi pikiran dengan hal-hal yang baru. Melewati pendidikan selama satu sampai bahkan lima tahun bukanlah untuk tidak melakukan apa-apa. Pendidikan ada untuk membangun sumber daya manusia, dan dengan demikian, ilmu yang didapatkan dari pendidikan tersebut haruslah dapat dimanfaatkan.
Memanfaatkan ilmu tersebut bisa diwujudkan dalam satu bentuk rencana selesai studi. LPDP mau melihat awardeenya memiliki rencana konkrit akan apa yang ingin dilakukan seusai studi. Hal ini juga yang akan menjawab mengapa awardee tersebut butuh untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengapa LPDP harus membiayai awardee tersebut.